/Eduar – Farasi : Jangan Jadikan Tuo Nifaro Sebagai Dampak Kriminal

Eduar – Farasi : Jangan Jadikan Tuo Nifaro Sebagai Dampak Kriminal

 

NIASTODAY.CO | Gunungsitoli – Tuo Nifaro saat ini menjadi sorotan mata para Netizen, yang diduga Tuo Nifaro adalah Penyebab terjadinya berbagai Kejahatan dikalangan masyarakat Kepulauan Nias. Selasa (24/07/2018).

Hal tersebut disangah oleh salah seorang Akademisi, Eduar Baene, SE, M.Si yang merupakan Dosen disalah satu perguruan tinggi di Kepulauan Nias, yang ditemui awak media diruang kerjanya, Selasa (24/7).

Eduar menyampaikan bahwa kita tahu dari nenek moyang kita dulu, tuo nifaro ini menjadi ciri khas sebagai orang Nias dan menjadi salah satu obat. Dimana tuo nifaro ini juga merupakan minuman yang sudah lama ada di Kepulauan Nias. Jadi, tidak mesti serta Merta kita mengklaim bahwa orang melakukan tindakan kriminal itu hanya karena sudah mengkonsumsi yang namanya tuo nifaro. Tetapi, hal itu mungkin ada penyebab lain yang membuat seseorang melakukan tindakan kriminal.

“Jangan di jadikan tuo nifaro Sebagai alasan utama dalam dampak kriminal. Tetapi, mungkin saja ada penyebab lain selain kita harus mengklaim bahwa tuo nifaro adalah hal yang utama terjadinya suatu kejadian,” ucap akademisi itu.

Lebih lanjut, kata Eduar, pihaknya dalam hal ini mengajak seluruh stepholder, baik Pihak Pemerintah, Kepolisian dan tokoh masyarakat untuk dapat bersama-sama turut mengambil bagian dalam memberikan pemahaman kepada seluruh masyarakat, bahwasanya mengkonsumsi tuo nifaro yang secara berkelebihan, maka dapat memberikan dampak negatif, baik pada orang lain dan juga pada orang yang mengkonsumsi itu sendiri.

“Bagi para pengonsumsi tuo nifaro agar dapat menggunakan secara teratur dan tidak berkelebihan,” harap Eduar.

Ditempat terpisah, Kepala Desa Fadoro Kecamatan Gunungsitoli Idanoi, Krisman Farasi mengatakan bahwa Tuo Nifaro tidak harus dijadikan sebagai salah satu contoh barang terjadinya penganiayaan. Misalnya, ketika tuo nifaro tidak ada, apakah ada jaminan tidak ada penganiayaan…?

“Sesungguhnya, hal itu kembali kemasing-masing individu. Tuo nifaro ini, selain ada kaitannya dengan adat istiadat kita Nias, ada juga kaitannya dengan ekonomi masyarakat. Justru bila hal ini terus dipersoalkan, maka para petani kita mau kerja apa.? Bagaimna mereka menyekolahkan anak-anak mereka..? Mereka mau makan apa.? Maka, mari kita lebih bijak melihat kondisi itu,” cetus Krisman.

Sambungnya, pekerjaan ini banyak orang tidak mau melaukannya, karena resikonya tinggi. Bayangkan dalam satu hari, dua kali harus dipanjat pagi dan sore dengan ketinggian pohon kelapa rata-rata 15 m dan banyak yang sudah jadi korban lumpuh hingga meninggal akibat jatuh dari pohon kelapa saat mengambil tuak mentah. Mereka lakukan pekerjakan ini, hanya karena desakan ekonomi. Maka, jangan serta merta pihak penegak hukum mengambil tindakan tanpa melihat kondisi atau situasi masyarakat. Untuk itu, kita mendorong Pemerintah untuk bisa dilahirkan regulasi terkait tuo nifaro tersebut.

“Jika regulasi itu ada, banyak masyarakat kita yang buta akan hukum, jadi baiknya hukum itu juga disosialisasikan kepada lapisan masyarakat paling bawah yang sering mengonsumsi minuman tuo nifaro. Jadi, menurut hemat kami langkah pemerintah harus memulai dari Desa kedesa, melalui sosialisasi organisasi masyarakat serta Lembaga Penegak Hukum juga harus bergandengan tangan dalam memberikan solusi,” tadas Krisman dengan penuh harapan.

(Red./Arif)